Tampilkan postingan dengan label berdengung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berdengung. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Januari 2012

Patofisiologi Tinnitus


A.   Etiologi
Penyebab tinnitus sebenarnya masih belum dapat dipastikan. Tinnitus dapat disebabkan oleh adanya penurunan kemampuan pendengaran, antara lain: presbiacusis, penurunan pendengaran yang diakibatkan oleh suara (noise induced hearing loss), Meniere’s syndrome, atau neuroma akustik         (Wadddell, 2004).
Pendekatan untuk mempelajari etiologi tinnitus dapat dilakukan dengan membedakan tinnitus menjadi 2 kelompok besar yaitu tinnitus obyektif dan tinnitus subyektif. Tinnitus obyektif adalah jika suara yang didengar oleh penderita dapat didengar pula oleh pemeriksa, sedangkan pada tinnitus subyektif suara hanya terdengar oleh penderita saja (Lockwood et.al., 2002).
Subyektif tinnitus juga dapat disebabkan oleh beberapa keadaan sebagaimana yang tertera pada tabel 1. Tinnitus subyektif bias disebabkan oleh karena berasal dari gangguan telinga (otologic), karena efek dari medikasi ataupun obat-obatan (Ototoxic), gangguan neurologist, gangguan metabolisme, ataupun dikarenakan oleh depresi psikogenik. Sedangkan tinnitus obyektif dapat disebabkan oleh karena adanya gangguan vaskularisasi, gangguan neurologist ataupun gangguan pada tuba auditiva atau Eustachian tube                   (Crummer & Hassan, 2004).   
Secara lebih rinci tinnitus subyektif dapat pula disebabkan oleh adanya presbiacusis ataupun karena adanya pengaruh suara yang terlalu keras sebagaimana yang tertera pada tabel 2. Pada tabel dijabarkan mengenai kemungkinan etiologi yang umum terdapat pada penderita dengan tinnitus subyektif. Etiologi tinnitus subyektif antara lain adalah : presbiakusis, paparan suara bising yang lama, trauma akustik yaitu terpapar suara dengan intensitas tinggi sewaktu, otosklerosis yaitu terjadinya proses pengapuran pada tulang pendengaran di telinga tengah ataupun pengapuran pada cochlea, infeksi, autoimun, ataupun predisposisi genetic, dan juga trauma pada kepala ataupun leher (Folmer et.al., 2004).